Jumat, 31 Maret 2017

Sapaan Mentari

0 komentar
Aku masih belum lelap
Mataku masih terjaga
Sukar kutolak keinginannya
Menikmati mentari menyapa anak-anak sekolah
entah yang enggan-engganan bangun
atau yang sudah siap menunggu angkutan umum
Menyapa ibu-ibu, yang dengan pandainya membagi tugas
antara memasak sarapan, membangunkan anaknya,
serta menyiapkan dukungan
berupa raga maupun jiwa ‘tuk suaminya
Dan menyapa bapak-bapak, entah yang masih pulas
menyimpan tenaga untuk banting tulang
atau yang sedang menjalankan tugasnya
membantu istrinya bertugas
Serta menyapa para lajang,
entah yang masih mencari jati diri,
atau yang sudah tentram dengan diri
entah yang mencari untuk diri sendiri
atau yang mencari untuk yang akan dipanggil istri
Mentari menyapa mereka masing-masing
dengan adil, santun dan suci
Kusambut halus sapaannya
dengan berterimakasih
Karena datang dan pergi itu pasti

Kamis, 30 Maret 2017

Detik

0 komentar
11.30
Satu menit berlalu di akhir baris ini
Kini menit ketiga
Sekarang menit 37
Baris ini berakhir di menit 40.50
Detik terus berdarma menuju 45
1 menit dilalui
2 menit dilalui
3 menit dilalui
4 menit dilalui
Sampailah di 45
Detik lanjut berdarma
Sungguh, tak ada yang lebih giat dari detik
Baris ini selesai di menit 47.59
Dilaluinya sudah menit ke 50
Jarum panjang berada di titik ketiga
antara 10 dan 11
Jarum panjang berada di 11
Detik masih dan tak henti melangkah
Dengarkanlah suara sepatunya
Tik.. tik.. tik.. tik.. tik..
00.00
Detik masih dan tak henti melangkah

Rabu, 29 Maret 2017

Tutur Angin

0 komentar
Lembut tuturnya angin
Merasuk dalam ingin
Mendiamkan angan
Yang lari ke depan belakang
Lembut tuturnya angin
Mengheningkan ingin
Terpampanglah cermin
Kawan kembara batin

Selasa, 28 Maret 2017

Perjalanan Semut

0 komentar
Semut ini perjalanannya sunyi
Tanpa riuh, tanpa raih
Tanpa kawan, tanpa lawan
Tanpa pujian, hanya ujian
Berteman sepi, bersahabat mimpi
Padahal lurus jalan yang laris
Malah keluar dari baris
Mencari lika-liku jalan dengan miris
Kawan-kawannya melihat dengan sinis
Bahkan ada yang menatapnya bengis
Si semut hanya meringis
Semut ini perjalanannya sunyi
Berteman sepi, bersahabat mimpi
Menguatkan hati
Mencari jejak yang manis

Senin, 27 Maret 2017

Bukan Untuk Hujan

0 komentar
Aku sedang asyik di depan laptopku
Ketika adzan maghrib berkumandang
Beriringan dengan tabuh perkusi hujan
maka ku lepas earphoneku
Sekarang aku duduk di teras
Ada musik yang sedang dimainkan
Harmoni antara ritme perkusi hujan
dan liukan nada para muadzin yang saut-sautan
Sama indahnya dengan Beethoven, Mozart, dan sekawanan
Sama indahnya dengan cengkok tembang-tembang Jawa
Apalagi kalau ada sentuhan bel kereta api,
riuh derung knalpot dan klakson di jalanan
serta gamelan langit yang ditandai kilatan
Kunikmati keindahan musik ini
Sembari mencari suara pamitan mentari

Yang tersembunyi di balik umpatan-umpatan
Yang seharusnya bukan untuk hujan 

Minggu, 26 Maret 2017

Pesona Angin

0 komentar
Rinduku seringkali mengikuti arah angin
Datangnya juga tak tentu, seperti angin
Kadang aku mencoba melawannya
Tapi bahkan aku tak tahu,
arah mana yang ku lawan
Rinduku semaunya sendiri
Ketika ku tanya angin,
"Ke mana rinduku mengikutimu?"
Jawabnya, "Rindumu mengikutiku?"
Sekarang aku yang kehilangan arah
Ke mana rinduku ini mengarah?
Lalu ada suara,
"Aku tak mengikuti angin,
aku mengarah ke angin
Risaumu bisa kupahami
Kau hanya belum tahu angin"


2016

Jumat, 24 Maret 2017

Ngelantur Dini Hari

0 komentar

Malam berdering terbuai mimpi
Siang berderung membuai mimpi
Nyata menyala diabai
Nyala khayalan digapai
Langit menatapi bumi
Bumi meratapi langit
Sungai mengalir ke laut
Laut mengulur ke sungai
Luka bagian dari liku
Berliku-liku bisa terluka
Berliku, terluka, berliku, terluka
Terluka, terluka, berlaku
Merasa berlaku bisa jadi luka
Berlaku merasa awal dari suka
Suka awal dari cinta
Menuju cinta menghirup harapan
Menebar harapan, memberi kehidupan

Kamis, 23 Maret 2017

Dingin

0 komentar
Waktu itu, kitaTak lebih dari musim dingin
Sebentar dan menyenangkan
Juga melelahkan

Lelah itu
Ku rasakan di tengah musim
Kau terlalu dingin
Aku menggigil

Kau pun pergi
bersama dengan cairnya air sungai
Sekarang rumput tak tertutup salju,
dan sungai bisa diselami
Mencoba menyelaminya, aku menggigil

Aku mencoba memahami
Bukan kau yang terlalu dingin
Hanya aku yang gampang menggigil
Seharusnya memang aku beradaptasi

Sekarang, aku sudah beradaptasi
Kini aku pantang menggigil
Mencintaimu memang harus dalam dingin
Tapi apa kau masih ingin?