Sabtu, 30 September 2017

Buang Saja

0 komentar

kudengar sunyi dalam sunyi
di telingaku
ingin kudekap
namun ragu

dan naluriku melagu:
tidakkan dan buang saja
sampai ragumu lelah
lalu meniada

Jumat, 29 September 2017

Bumbu, 7

0 komentar

ah, kamu memang pendengar yang telaten, Mas.
Terimakasih ya, Mas.
Kalau nanti aku kepleset, hanya mencintai kupingmu saja
jangan sungkan akhiri hubungan ini ya, Mas.

(aku dandan begini
buat hidup, Mas)

Kamis, 28 September 2017

Catatan Kecil di Sampul Buku Catatan, 2

0 komentar

bacalah lagi
puisi-puisi angin
dan pengembara malamnya.
Hujan. Pohon-pohon.
Rumput-rumput.
Dan lilin-lilin paskah mungil.
agar tak sering-sering
lupa Diri.

Rabu, 27 September 2017

Bumbu, 8

0 komentar

ah, kamu memang pedandan yang mumpuni, Dik.
Terimakasih ya, Dik.
Kalau nanti aku kepleset, hanya mencintai dandananmu saja
jangan sungkan akhiri hubungan ini, Dik.

(lonte termahal di rumah bordil pun
kalah sama dandananmu, Dik)

Selasa, 26 September 2017

Apimata

0 komentar

Mataapi!
Matamu berpupil api
Meremkan matamu agar tak membakar
segala yang kamu pandang.
Tapi pelupukmu
pelupuk mataapi
dengan bulumata lidah-lidah api
yang menjulur liar di setiap kedipan.
Sigap jalarkan kobaran
pada tiap akar-akar sabar.

Mataapi!
Mata-mata api sudah
di matamu
Sampai segala tiada selain
api di pandanganmu.
Api di kantong matamu
keringkan mataair airmatamu.
Kini tangismu bagai lahar mengalir.
Hanguskan segala yang dialiri.
Dan kalau jatuh tangis itu
sudah pasti gersang tanahmu.
Namun belum pasti nanti gembur
nan subur.

Mataapi!
Mata-mata api
berkobar di matamu.
Redupkan apimatamu.
Apimata ialah sorot bening
nan hening
bagai pelita dalam gulita.
Penggugah rasa
eling lan waspada.

Apimata!
Jangan redup!
Apalagi lenyap apimatamu!
Meski matamu mataapi.
Karena apimata ialah
ksatria dambaan airmata.

Senin, 25 September 2017

Bumbu, 1

0 komentar

tak apalah kamu pelihara cemberutmu itu
tapi jangan kamu larang aku memberinya makan
karena memang ia
kelinci putih mungil yang lucu.

Minggu, 24 September 2017

Malam Memang Begitu

0 komentar

Sudahkah kau sapa bintang?
Sudahkah kau salami bulan?
Apa malam masih bercengkerama denganmu?

Malam memang begitu
bicaranya ndakik-ndakik sok filsafat
perihal sebab akibat
perihal akar masalah
perihal bacalah
tapi guyonnya asik.
Mendung sampe ikut nimbrung
dan perlahan bulan dan bintang mulai melipir
Apa malam masih bercengkerama denganmu?

Malam memang begitu
melenakan tanpa bulan bintang

Sabtu, 23 September 2017

Bumbu, 3

0 komentar

aku ini, kamu itu
kamu itu, aku ya itu
aku begini, kamu begitu
kamu begitu, aku ya begitu
kadang-kadang lelah juga
kadang-kadang leleh juga

“Ah, pokoknya bisa bikin ranjang encok.
Iya kan, Mas?”

Jumat, 22 September 2017

Wejangan Pak Timin

0 komentar

Ketika lalai kutuliskan rinduku dalam puisi
meranggas daun-daunnya yang sunyi
pohon jati itu tinggal batangnya saja
Angin pun enggan menyapa.

Ketika rinduku hanya kudendang dalam hati
merindanglah daun-daunnya yang sunyi
pohon jati itu tempat berteduh paling teduh
dan kala itu Angin tetap enggan menyapa

Lalu ini bagaimana?
Tanpa Angin hidup ini hampa
Tanpa Angin hidup ini gerah
Tanpa Angin hidup ini apa?

Dan Pak Timin, yang fanatik pada waktu
mewejang:
Senantiasa menari-nari serentak seirama dendangan Angin
ialah senikmat-nikmatnya hidup di sini nanti.

Wah!
itu maksudnya apa, Pak?

Dan kulihat ia tertawa
melihatku tak segera
menyulut lilin-lilin paskah mungil
dan membacanya.

Rabu, 20 September 2017

Bumbu, 6

0 komentar

katanya mau bicara soal filsafat Ada yang tiada, Mas?
kok ujung-ujungnya berahimu yang bicara?
sekali-sekali lah, Mas. bicara ndakik-ndakik.
barangkali bisa bareng muncaknya.

loh, Mas! loh ya…
jangan gondok begitu…

Selasa, 19 September 2017

Bulan Senyumnya Sumringah

0 komentar

Malam ini Bulan senyumnya sumringah.
Sebabnya bukan di rumah-rumah ibadah yang
mulai ramai
bukan di jalanan kota yang mulai tampak
permai
bukan pula di gedung-gedung necis tempat
pengabdian digadai.

Sebabnya di gang sempit itu
empat kanak-kanak masih kanak-kanak.
Bermain permainan sederhana
diiringi tawa yang khas
dan kegembiraan
menemukan tempatnya
dan menarilah ia.

Adapun permainannya sungguh sangat sederhana:
Mereka saling berhadapan, lalu suit batu gunting kertas
Yang menang dapat hadiah
menarik hidung lawannya atau menusik kepala
dan tertawa.
Yang kalah dapat hadiah
ditarik hidungnya atau ditusik kepalanya
dan tertawa.

Dan kegembiraan
menarilah ia
menari dan
menari
mengajak menang dan kalah
hanyut dalam ritme keriangan
tawa kanak-kanak.

Malam ini Bulan senyumnya sumringah
mengejek wajah-wajah pongah yang lengah. 

Senin, 18 September 2017

Bumbu, 2

0 komentar

sehelai rambutmu tertinggal di pundakku
lalu apa kamu tega meninggalkannya sendirian?
kalau tak juga kamu jemput
kubawa saja sehelai ini ke dukun. Mau?

Minggu, 17 September 2017

Libur, 2

0 komentar

Kunikmati jingga rona senja di teras rumah
sambil duduk ningkrak dan kretek di tangan
Batu hitam itu memicingkan mata
pada kakiku pandangannya penuh tanya:

Bagaimana ia
bisa libur sekian lama?

Sabtu, 16 September 2017

Kalau Bukan

0 komentar

Kalau masih belum cukup kau muat duit raksasa itu di kartu kreditmu
Mengapa tak kau kerdilkan hasratmu
'tuk memuatkannya?
Kalau masih belum cakap kau kerdilkan hasratmu 'tuk memuatkannya
Mengapa tak kau kucilkan kecakapanmu 'tuk
menerima amanatnya?
Kalau masih belum cekat bahwa 'tuk menerima amanat harus kecilkan cakap dan kecakapan
Mengapa tak kau cekik keserakahan dan kepongahan 'tuk
meminta-minta amanat?
Kalau masih belum tega mencekik lalu menginjak-injak hasrat dan kecakapan dan keserakahan dan kepongahanmu?
Mengapa masih saja ngeyel menawar-nawarkan diri buat jadi
pejabat?
Kalau bukan bangsat dan keparat
lantas sebutan apa yang pantas?

Jumat, 15 September 2017

Kursi Panjang di Ruang Tamu

0 komentar

Kursi panjang ini belum sembuh bekas lukanya
Sebab bokong sintalmu dan bokong teposku
duduk di sini
dengan sabar menemani
kita yang bercengkerama

bertukar pikiran dan cerita
dengan kata
dengan nada
dengan lidah
dan dengan desah

Kursi panjang ini memang belum sembuh bekas lukanya
Namun ia menolak dikata menderita, malah ia bertanya:
“Kapan kau bawa bokong sintal duduk di sini lagi?
Aku rindu merawat luka baru.”
Aku tertawa.

Nanti ya, kawan.
Nanti.