Minggu, 30 April 2017

Fajar Mengajar

0 komentar
Hari ini hari minggu
Kukuruyuk ayam sudah terdengar
Tapi malam belum tenggelam
Di bawah naungan bintang timur
Tersisa gemerlap riang semalam
Menggema bersama suara pujian
Teruntuk entah Tuhan, entah insan
Menjamur menemani jalan lelap
Saat detik-detik malam akan tenggelam
Pada riuh rendah sisa-sisa semu kegembiraan
Majemuk panggilanmu membuka mataku
Akan tekun lalaiku pada hadirmu

Sabtu, 29 April 2017

Bayaran Tenar

0 komentar
Ruang kosong itu
ia sebut hati
Tertutup rapat pintunya
Kelam temaram menyelimutinya
Tiada celah untuk angin
Bisingnya jadi hening
Heningnya mencekam sunyi
Senyap puji berbunyi 
menguji
Ia mengintip 
keluar lewat jendela
Melihat tari topeng raganya
Senyap puji berbunyi menguji

Jumat, 28 April 2017

Loteng Mentereng

0 komentar
Memang menyenangkan melihat dari loteng
Kau bisa menatap jauh ke depan
Di antara celah genteng dan anten
Kabel saluran listrik dan pepohonan
Cakrawala dan gedongan bersaing menetapkan batas pandang
Memang mengasyikkan melihat dari loteng
Lintasan terbang burung seakan tergapai
Sepoi angin sering sekali mencapai
Segala kepadatan jalanan seolah sanggup diurai
Tapi di loteng harus siapkan baju ganti
Tiada kere buat hujan badai
Masang kere itu batasi jarak gapai
Di loteng, meski hujan badai
pandangan tuju harus tetap tergapai
Tapi di loteng harus bisa abai
Ketika hujan badai berderai-derai
Tiada yang penting selain perabotan kedai
Kecuali ada gadai
segala urusan harus dipergontai
Ah, memang asyik dan menyenangkan di loteng
Impian hidup para pendonggeng

Kamis, 27 April 2017

Pulang

0 komentar
Dalam keindahan selimut mimpi
Aku terombang-ambing makna nyawiji
Sepertinya o, kekasih
Akan sering kujilat ludah sendiri
Sampai nyata rasamu memenuhi
Dan saat ini aku berterimakasih
Tarianmu selalu menarik hati
Semoga saja, kekasih
Selaluku bergandeng selakuku tiada henti
Maka dekaplah aku dari lumur diri

Selasa, 25 April 2017

Campur Tangan Angan

0 komentar
Sekarang dini hari
Aku mampir ke warung langgananku
Warung ini milik Hening
Penjaganya bernama Sabar
Duduk lesehan aku di sana
Merokok dengan tenang
Sambil ngopi ditemani Sabar
kepala jadi lenggang
Tapi siapa ini Gesa?
Yang mesti datang tiba-tiba
ngotot pengen ketemu hening
Sabar pun kelabakan meladeni
Siapa ini Gesa?
Mengapa Sabar mesti dibuatnya kelabakan?
"Kau juga mengapa tak membantunya?
Ia jelas kelabakan tanpa bantuanmu
Perihal Gesa
ia adalah impianmu yang maksa"
Sahut Hening di pojokan

Senin, 24 April 2017

Rindu Ruang

0 komentar
Aku benci membaca diriku
Pikiranku seperti kosan 3 x 4
Dengan dipan 2 x 2
Lemari besar di pojokan
Lemari kecil di depannya
Baju berserakan
Kumpul bareng buku
Ada meja di samping dipan
Berjarak seorang duduk bersila
Cukup dua jika memanjang
Aku ingin membobol tembok kosanku
Melapangkannya ke depan, belakang
Samping kiri maupun kanan
Aku butuh ruang
Tapi waktu tak kenal luang
Sedang nafsu selalu terjaga
Ruang yang seharusnya ada
malah tiada

Minggu, 23 April 2017

Cinta ?

0 komentar
Cinta
Kata yang
entah apa artinya
Makna, memaknai, dimaknai
Beribu-ribu hingga jutaan
Sembunyi
tenang di tirainya
Kicau burung di mendungnya hari
Melapangkan dada sang surya
Mempersilahkan hujan menemani pagi
Hingga mendung mulai pamit
Sang surya jadi terik
Hujan
sudah jadi peluh yang rintik
Menyirami bunga dan rerumputan
Yang kadang berisik penuh hardik
Kadang merdu mengusik kalbu
Kadang bahkan tak peduli rintik
Sampai pada saat sang surya bersinggasana senja
Sedikit demi sedikit rintik peluh mulai reda
Angin berhembus menyapa
Rumah-rumah bertebaran mengundang
Menawarkan peristirahatan
Sembari petang datang
membawa panggilan
Kelana menuju malam kelam temaram
Yang istirahat sudah biarkan
Usah dikoyak-koyak siapkan bekal
Mereka sudah
dan sudah pasti berbekal
Malam mulai membeberkan jalan setapaknya
Hujan nyamar lagi jadi peluh yang rintik
Bahkan sampai deras
Tak heran ada yang pakai payung, menurunkan kere,
ngiyup di latar masjid,
bahkan sampai pakai pawang hujan
Orang-orang tua ketakutan
melihat anak-anak kesenengan
Tiang listrik dipukul duabelas kali
Hujan masih deras menemani
Aku ingin keluar
telanjang tanpa sandal dan bekal
Menyingkap tirai yang beribu-ribu hingga jutaan
Mencari, menelisik, menelusuri,
menapaki, mengasah rasa, digugah rasa,
meresapi hujan, diresapi hujan, menyelami,
sampai diselami, tak peduli
hingga tenggelam
dalam lautan makna
yang memaknai
dan dimaknai oleh kata
yang entah bagaimana awal dan akhirnya
disebut cinta

Sabtu, 22 April 2017

Bahagia Di Diriku

0 komentar
Bahagia di diriku sudah cukup
Dengan adanya udara yang aku hirup
Bahagia di diriku sudah cukup
Dengan mendengar hanya irama hujan
Bahagia di diriku sudah lebih dari cukup
Ketika memandang pancaran indah purnama
Bahagia di diriku sudah berlebihan
Maka bahagia di diriku tak butuh kamu
Bahagia di diriku memang tak butuh kamu
Kamu hanya seperti sehelai daun
Sedang bahagia di diriku pohon rindang
Gugurnya sehelai daun tak jadi masalah
Bahagia di diriku memang tak butuh kamu
Kamu hanya seperti secangkir air
Sedang bahagia di diriku samudra
Hilangnya secangkir tak kan disadari
Itu lah bahagia di diriku
Tapi bahagia di diriku beda dengan diriku
Bahagia di diriku memang tak butuh kamu
Aku yang butuh

Jumat, 21 April 2017

Malam Bicara Gang

0 komentar
Pada sempit luasnya gang
Bulan diselimuti awan
Kodok dan jangkrik berdendang
Malam bicara panjang
Tentang luasnya gang
Sepi menjaga gerbang
Sunyi cangkrukan diterasnya
Jangkrik jadi lampu jalan
Di satu dua rumah
Lelah pantang bicara
Keringat bermakna beras
Mencari pantang bernas
Malam bicara panjang
Tentang sempitnya gang
Hanya di satu dua rumah
Sepi menjaga gerbang
Seringkali bunyi cangkrukan
Di teras dan warkop jelmaan
Cekikikan bebocah berlarian
Temani kebul asap pejuang siang
Nada-nada kalahkan sunyi
Yang membaca gadget tak sadari
Bersama hangat canggung beranda
Lelah lantang bicara
Keringat tetap bermakna beras
Mencari tetap pantang bernas
Pada sempit luasnya gang
Malam bicara panjang

Kamis, 20 April 2017

Syukur

0 komentar
O, kekasih
Salahkah aku memanggilmu, kekasih?
Karena aku bermimpi
Perihal bahaya pura-pura merindumu
Dan ketidaktulusan mencintaimu
Darimukah pertanda itu?
Sedang aku percaya
Tak kan kau tanamkan
Kerinduan dan cinta akanmu
Pada selain yang kau pilih
Marahkah kau            
jika aku merasa kau pilih, kekasih?
Karena rindu dan cinta akanmu
muncul begitu saja
Ketika kau kusadari
Apakah sadarku ini kau pilih?
Ataukah nafsuku ambil alih?
Entahlah, kekasih
Yang jelas aku menikmati
Dan marahmu pasti tanpa benci
Maka aku berterimakasih