Selasa, 31 Oktober 2017

Matahari Pagi

0 komentar

Ah, matahari pagi.
Apa kabar?
Lama kita tak bersalaman
kulitku rindu sinarmu.
Yang hangat dan kadang panas
dan sebabkan butir-butir peluh.

Dan justru itu yang kurindu
sebab kamarku sebarkan butir-butir
jenuh
yang siap mengembang menutupi
pori-poriku.

Sorry ya, matahari pagi.
Masih sering lalai kuberterimakasih
sebab tetekbengek di sini
memendungkan langitku.
Dan samar sinarmu terhalau
gedung-gedung berkaca galau.

Namun tak jemu jua kamu
menerangi gelapnya siangku
sedang kuseringkali jemu
menyapamu, saudaraku.

Jumat, 27 Oktober 2017

Rindu Belai

0 komentar

kurindu membelai gerai
yang gerai tak sampai gapai
kurindukan gerai membelai
yang tak gapai sampai bagai

sampai andai capai andai
sampai andai capai gapai
sampai gapai capai gapai
belalai belaiankanbelaian
belalailaiankan kugapaigapai
            sampai
                        sampai
                                    sampaiKu.

Kamis, 26 Oktober 2017

Orang-Orang Yang Menanti

0 komentar

Orang-orang yang menanti
ialah mereka yang menghidupkan hidup
bermetamorfosa.

Mereka meramaikan rumah-rumah ibadah tanpa pernah sesumbar
di toa, di postingan sosial media, dan di telinga-telinga cangkang.
Bahkan tanpa pernah memandang rendah,
menyalahkan lalu meneriakiku
yang hanya meramaikan toiletnya.

Mereka memenuhi tangan para pengemis dengan recehan tanpa
merasa kasihan, memberi memang sudah waktunya memberi.
Tanpa menimbang-nimbang itu pengemis palsu atau bukan. Tanpa menimbang-nimbang itu pengemis jackpotnya pahala atau dosa
seperti yang jarang kulakukan.

Mereka ada di pasar-pasar, menjajakan dagangan dengan
pijakan ketulusan. Mengambil untung dari ketelitian dan ketekunan sendiri
tanpa mengakali timbangan, ketidaktahuan pembeli, dan memanfaatkan kelangkaan barang dagangan
seperti yang sering kulakukan.

Mereka menghibur para penonton yang haus kesegaran pandangan
dengan keindahan. Merasa sudah kewajiban
berkarya dengan hati nurani dan menggugah arus bawah
tanpa sambat, pun tanpa merasa kebebani, seperti yang
jarang kurasakan.

Mereka ada di sawah-sawah, mengolah tanah,
lalu menanaminya dengan padi hari esok,
meski nama dan keringatnya seringkali merugi
saat panen. Mereka pantang berelegi atau memaki-maki
mereka yang masih sering membuang-buang nasi sepertiku.

Mereka meramaikan jalanan dengan modal jajanan,
atau koran, atau gitar usang, atau bahkan hanya dengan
tengadah tangan. Dengan ketekunannya mereka sindir
kepongahan para kendaraan yang asap knalpotnya menyemerbak
bau keserakahan ambisi medikari pemiliknya, seperti bauku.

Mereka membimbing dari depan, mengawal dari belakang,
bahkan menemani pejalan malam yang rindu matahari pagi,
yang sorot matanya lampu ublek, yang terseret-seret langkahnya
dengan sepatu tanpa sol, yang sering mendongak berjalannya.
Tanpa pernah terima disebut pemandu fajar, seperti yang kuinginkan.

Merekalah
orang-orang yang menanti
dan menikmati berseminya kebun Cinta
nanti.

Rabu, 25 Oktober 2017

Ke Kembali

0 komentar

terbit terbirit-birit
cahaya yang kucari-cari
terbit mengirit-irit
cari-carian cahaya Yang

Selasa, 24 Oktober 2017

Gambaran Kaki Lima

0 komentar

Ada dua pedagang di perempatan
sama-sama dagang makanan.
Yang satu sate ayam.
Yang satu sate ayam.
Seorang pembeli datang.
Bergumam:
harus kubagi agar
masing-masing mereka dapat uang

Ada tiga pedagang di perempatan.
Seorang pembeli kebingungan.
Ketiga pedagang berharap:
ia tak jadi pedagang keempat.

Senin, 23 Oktober 2017

Kukenangkan Kala Itu

0 komentar
kukenangkan kebersamaan kita kala itu

kala matahari malumalu menyinari
kala bulan sumringah senyumnya merekah
kala bintang tarian taburkan melati
kala yang sejenak
sekedipan mata abad itu

kukenangkan dalam rindu genang linang

Jumat, 20 Oktober 2017

Tanda Tanya Tentang

0 komentar

Tanda tanya tentang samudra
berhembus bagai angin
menerpa rambut kusutku
tanpa uban yang tumbuh.

Tanda tanya tentang angin
mengalir bagai kali
berhuluhilir dalam dadaku
tersumbat bulu busung bubung.

Dan tanda tanya tentang tandatanyaku
menderu arus lalu bertalu-talu
berngiang dalam mega-mega mendung
tanpa rindu yang syahbadidu.

Kamis, 19 Oktober 2017

Demi Sore Nanti

0 komentar

Kekasih, engkau bukan di sana
pun bukan di sini
namun selalu kau gandeng tangan ini
dan keangkuhan selalu bisa
butakan rasa.
Kekasih, aku kebingungan berekpresi
mau begini takut nyakitin hati
kanan kiri.
Mau begitu takut terlalu
beku
karena kanan kiriku sudah
terlalu pilu
dan abu-abu.

Konyol! Sungguh konyol semua ini.
Ekspresiku sekedar gagasan-gagasan buntung
bagai korek api tanpa pentolan.
Bahkan terlalu sombong aku menyebutnya
sebagai gagasan.

Kerdil! Sungguh kerdil diri ini.
Karena ingin berekspresi agar menjulang
dan bertopi bintang
dan berjubah merak
dan bersepatu macan.

Kekasih, aku kebingungan berekspresi
sedang ujarmu:
Cumbumu belum utuh tanpa menyemai
ekspresi cintaku

Bingung! Sungguh bingung diri ini
Aku masih seringkali berdiri
tegap membusung sampai
kembung.
Maka kumohon padamu, kekasih
demi sore nanti

Hunuslah aku!
dengan pedang sunyi rindumu

Rabu, 18 Oktober 2017

Kepada Kamu, 2

0 komentar

Kepada kamu, diriku
dengarkanlah lagu itu
sudah keseringan langkahmu
mengabai tak acuh

Sadarkah kamu, diriku
dalam perjalanan pulang ini
langkah-langkahmu mencuri
dengar alunan nada dan ritme itu
Dan berdendanglah suaramu
terhentaklah kakimu
dibuncahkanlah rasamu
menenggelamlah pikiranmu
mengikuti lagu merdu itu

Tiadalah lagu manapun yang
indah
selain lagu itu

Maka sadarlah kamu, diriku
agar langkah-langkahmu
tak tuli tertutupi
kepongahanmu
dalam mendengarkan lagu
yang syahbadidu