Senin, 31 Juli 2017

Luput Sadari Karya, 2

0 komentar
Semut hitam berjalan kebingungan
mengarungi stepa di lenganku.
Karena risih kegelian
kukibaskan ia bersama lengang.

Nyamuk malam panen pangan
tubuhku adalah sawah hijau kekuningan.
Karena risih dan gatal
kutepok ia bersama lengang.

Angin berhembus menyirep
seketika ada suara:
Bukankah kasih sayang seharusnya bahasa utama?
pikirmu mengapa
Kubiarkan kau
mengarungi dan panen dalam
tubuhKu?

Minggu, 30 Juli 2017

Jangan Kau Ketawakan

0 komentar
Jangan kau ketawakan plankton di lautan yang bercita-cita ke bulan
Jangan kau ketawakan angin yang bercita-cita digenggam angan
Jangan kau ketawakan raja yang mengemis mekarnya kembang dengan menjilat kumbang
Maka jangan kau ketawakan cita-cita cintaku
mencintaimu dalam malam

Sabtu, 29 Juli 2017

Malam Mingguku

0 komentar
Ini malam minggu
aku duduk di kursi batu
lalu kudengar angin mengetok pintu
mengajakku jalan
berkencan dengan malam, di malam minggu.
Tak kuasa kutolak ajakannya
suaranya bagai sinden menembang dhandhanggula sidoasih

    (pamintaku nimas sidoasih
     anut runtut tansah reruntungan)

menarikku ke ambang batas kesadaran
antara iya dan enggan.

    (ayo bareng nimas anglakoni wajib
     sidoasih bebrayan)

Maka ia pertemukan aku dengan malam
lalu kami bertiga jalan.
Angin bergelayut manja di sebelah kanan.
Malam mengenggam erat tangan kiriku
seolah takut
aku mengenggam jemu.
Dan langkahku ramai
oleh bahasa sunyi mereka.

Apa yang hendak kucerita?
Mereka berbahasa sunyi.
Otakku sulit menerjemahkan lewat kata.
Maka cobalah sendiri sekali.
Atau berkali-kali sepertiku
yang sudah jadi agenda tetap
malam mingguan bersama angin dan malam.
Meski ada pasangan atau teman.

Jumat, 28 Juli 2017

Ambang

0 komentar
Satu jam di loteng
Habis sudah rokok dua batang
Tiada tiga coretan luka lakuku kuingat
Keempat penjuru sepi tiada henti berteriak
Kelimaku diinjak kaki peradaban canggih berkerak

Kamis, 27 Juli 2017

Angin Menggiring Langkah

0 komentar

Bangku panjang di trotoar ini
menemaniku membatu sendiri
Kuburan itu kupandangi
Sunyi di situ berbunyi
pada sunyi di sini:
yang ada di antara kita
hanyalah aspal jalanan yang kian lelah
dan sebatang rokok yang menyala.

Bangku panjang di trotoar ini
kutinggalkan sendiri
Satu hisapan dalam, lalu
sebatang rokok ini kumatikan
sembari melangkah seberangi jalan
kuhembuskan asapnya pelan-pelan

Rabu, 26 Juli 2017

Lalai Kemesraan

0 komentar
Tak pernah terucapkan selamat pagi dari mulutmu, Kekasih
tapi tetesan embun di dedaunan itu, hembus sejuk angin pagi
kicauan burung-burung, kapas-kapas mega dan kenangan sunyi
sudah cukup memahamkanku.

Tak pernah terucapkan selamat malam dari mulutmu, Kekasih
tapi nyanyian jangkrik-jangkrik itu, hening gemerlapan mimpi
purnama yang menanti, kapas-kapas mega dan wangi melati
sudah cukup memahamkanku.

Maafkan.
aku masih lalai mengucapkan
terima kasih, Kekasih...

Senin, 24 Juli 2017

Memang di Sini

0 komentar
Saat ini yang terdengar rintik
hujan sedang bersendagurau
dengan malam yang selalu sunyi

Aku
malam ini sedang dicari-cari

oleh seorang berbaju tambalan
kain-kain bekas pabrikan
kusut rambutnya panjang awut-awutan
ke samping kiri belahan rambutnya
tiap helai berwarna putih kekuning-kuningan
pupil matanya biru beriris hitam
pandangannya sayu melengah tajam
bagai mata elang di kandang
ia yang bertopi merah itu
ditemani sandal besinya
menjajaki malam dengan pongah
ilalang kebisingan ditebas dengan pandangannya
yang sayu melengah tajam
bagai celurit pasi pendekar buram

Aku
bukan bermaksud sembunyi
tapi memang semayamku di sini
di bilik mini relung sunyi. O!

ia masih menjajaki malam
dengan pongah
gubuk-gubuk gabus kesunyian dihampiri
kiranya ia menikmati setiapnya
karena di tiap gubuknya
ia mesti mabok
lalu meracau
suaranya tinggi tanpa kaki
kata-katanya adalah bulan merah berduri
yang nangkring di ujung bibir
siap mengompongkan gigi
bisa bermalam-malam ia habiskan
untuk mabok di tiap gubuknya
sampai matahari menjambak rambutnya
lalu pagi menjelang
ia tidur dari siang sampai
malam kembali datang

Aku
bukan bermaksud sembunyi
tapi memang semayamku di sini
di bilik mini relung sunyi, O!

Hujan masih bersendagurau
sementara malam makin temaram
ia kini menelusuri gang-gang sunyi
gang buntu di sini, kembali
telusuri gang lagi
gang buntu di situ, kembali
telusuri gang lagi
padahal yang bikin buntu
adalah sorban putihnya
pemberian filsuf berkulit merah
ia makin mabok dalam kebingungan

Aku
bukan bermaksud sembunyi
tapi memang semayamku di sini
di bilik mini relung sunyi, O!

Seringkali Kupergoki
perangainya jadi seteduh musim semi
mekar ia menyerbak ke sekeliling
karena ia merasa sudah menemui
di bilik mini relung sunyi
saat itu juga ia tak butuh lagi

O! Sungguh!
Aku
bukan bermaksud sembunyi, kekasih
tapi memang semayamku di sini
di bilik mini relung sunyi
dan rasa merasa itu, kekasih
adalah kebuntuan abadi

bintang-bintang merapikan sandal
bersama bulan bercengkerama di halaman, O!

Minggu, 23 Juli 2017

Sempatkanlah

0 komentar
Menghirup angin malam
Nyalakan api bening di dalam
yang seringkali redup kala siang
dihembus angan bayangan
bayang-bayang.

Dalam riuh rendah. Hiruk pikuk. Gegap gempita.
Gemerincing gaduh kehebohan kehebatan.
Gemeluduk berkilatan
di mendungnya langit siang

Sempatkanlah sejenak, kawan

Sapalah dirimu di sudut malam.
Nyalakan api bening di dalam.
Gulungan ombak zaman kian
menjadi-jadi berderu serobotan.

Sabtu, 22 Juli 2017

Dua Burung Senja

0 komentar

Dua burung senja
bertengger di dahan kapuk randu
jantan dan betina
berkicau-kicau mereka
dalam sepi sepoi angin hutan.

Kicauan si jantan seringkali kacau
tak senada sepengertian
pendengarannya berkurang
lagunya lagu rock religi
itu pun gubahannya sendiri
sedang tembang jawa
luput dari kicauan

Kicauan si betina seringkali racau
kadang senada kadang sepengertian
lagunya lagu pop klasik
yang mendambakan jazz klasik
meninggi keras ngeblues suaranya
sedang tembang jawa
dikicaukan dalam diam

Dua burung senja
bertengger di dahan kapuk randu
jantan dan betina
berkicau-kicau mereka
dalam sepi sepoi angin hutan.

Pada dua burung awan
kicauannya menyiratkan:
agar terbang di lintasan ini
jangan di lintasan itu!
apa kata penghuni hutan nanti?
selaras selalu angin dan angan
bersama menuju senja
karena penyesalan dan kenangan
tak ringan tangan.

namun, dua burung awan
sedang belajar terbang di lintasan sendiri
layaknya suratan.

Dua burung senja
bertengger di dahan kapuk randu.
Tanpa sadar makin mesra
layaknya suratan Maha Cinta.