Kamis, 25 Mei 2017

Luput Sadari Karya

0 komentar
Aku sudah terlalu kenyang
untuk berpuisi
sedang matahari masih gagah.
Mataku akrab dengan lelap.
Daya pikir dan renungku
pelan-pelan pura-pura
tak mengenaliku.

Apakah harus lapar
untuk berpuisi?
sedang matahari masih gagah.

Inikah waktu yang kau ceritakan, kekasih
Ketika angin lalai mengingat nama
Dan senja di cakrawala
Lelah menggugah

Rabu, 24 Mei 2017

Perempuan

0 komentar
Setapak jalan curam
di setiap per
menuju lekuk kokoh
pegunungan em.

Lalu tampak ladang puan
labirin taram berujung
pualam.

Selasa, 23 Mei 2017

Alami

0 komentar
Seharusnya malam ini
waktunya aku belajar.
Tapi wangi malam
menguatkan dayaku berpejam.
Lalu ku tutup
buku-buku pelajaran.
Di dalamnya ku kuburkan
pinjaman pikiran.
Tergelarlah perjalanan pejam
Malam menawarkan teman
Antara mimpi dan kesunyian
Ku bilang:
Mana yang membawaku
pada kasunyatan?

Dan malam menyeringai di pojokan

Senin, 22 Mei 2017

Kalah Daya

0 komentar
Aku ketiduran
di malam padhangmbulan.
Maraknya perayaan sambutan kecerahan
kulewati dengan belaian
mimpi kefanaan
Nyanyian-nyanyian merdu
jangankan masuk telinga kiri
keluar telinga kanan.
Kakinya lumpuh
hanya menyentuh daun telingaku.

Aku bermimpi
di malam padhangmbulan.
Orang-orang bersungut gerah
tergugah dari belaian
mimpi kecerahan.
Nyanyian-nyanyian merdu
jadi teriakan batin yang beradu
dengan kepiawaian akting pion-pion
pencerahan semu.

Aku tidur
di malam padhangmbulan.
Jiwaku ingin mengambil jarak
tapi ragaku kukuh
lelapkan nyala
sambutan kecerahan.

Sabtu, 20 Mei 2017

Tembok Tembus Pandang

0 komentar
Tembok besar di depan mata
luput dari kasat.
Melihatnya harus meraba.
Merabanya harus dirasa.
Dirasanya tak cukup dirasa.
Harus mancep merasakannya.

Tinggi menjulang si tembok besar
setinggi pandangan.
Panjang terlentang
sepanjang pandangan.
Tebal kokoh transparan
sejauh batas pandang.
Tapi tembok besar bukanlah halangan
meski batunya sudah lumutan.
Bisikan zaman adalah akal-akalan.
Karena tembok besar adalah ruangan
warisan asli pembangunan
yang butuh batu endapan sekarang.

Kamis, 18 Mei 2017

Sepenggal

0 komentar
Aku ingin jatuh cinta pada rupa jelita
agar aku tahu nyata rupa cinta
Aku ingin jatuh cinta pada wujud gairah
agar aku tahu nyata wujud cinta
Aku ingin jatuh cinta pada ruang bahagia
agar aku tahu nyata ruang cinta
Aku ingin jatuh cinta pada tutur gembira
agar aku tahu nyata tutur cinta
Aku ingin jatuh cinta pada gelagat indah
agar aku tahu nyata gelagat cinta

Wanitaku, bukan maksudku jauhimu
tapi tak kukecap
cinta
ketika aku jatuh padamu

Rabu, 17 Mei 2017

Mandeg Di Layar

0 komentar
Hai
Apa kabar?
Baik?
Yakin baik?
Ada kah yang ingin kau ceritakan?

Sibuk apa kau sekarang?
Biasanya?
Seperti apa?
Ada kah yang ingin kau ceritakan?

Gimana hari ini?
Biasa aja?
Masak?
Ada kah yang ingin kau ceritakan?

Sudah makan?
Belum?
Barangkali ada yang ingin kau ceritakan?

Baiklah. Selamat malam...

Selasa, 16 Mei 2017

2017, Kawan!

0 komentar
Lupa mengakar
Lupakan akar
Gampang bertengkar
Lalu tersangkar
Para penyabung mekar

Sudah ada pengajar
Ajaran moyang kita sudah mekar
Mari nyekar!

Kita butuh belajar
dan harus belajar
Kita harus kekar
mengakar
Sangkar harus ambyar!
Mari nyekar!

Minggu, 14 Mei 2017

Pengelana Pemula

0 komentar
Kususuri lengang temaram malam
selangkah kakiku terdiam
diam-diam menghitam
kelam berhias pualam.
Kususuri lengang temaram malam
selayang pandangku tercekam
diam-diam menghujam
kejam berhias pualam.
Kususuri lengang temaram malam
segapai tanganku tergenggam
diam-diam membenam
kusam berhias pualam.

Wahai, malam panjang bergang-gang
Betapa terjal perjalanan pejam
Ujung jalan bagai timbul tenggelam

Jumat, 12 Mei 2017

Rabu Riang Biru

0 komentar
Di dalam riuh tawa hari rabu
Getaranmu memancar di pojokan kedai
Seperti ku kenali getaran itu
Getaran yang selalu menyisakan tanya
Getaran yang selalu memperdaya
Ah, rupanya benar itu kau
Perempuan berkerudung pink
Rupamu memang berbeda saat selasa
Tapi getaranmu sama
Kali ini kau bersama kawananmu
Ada satu lelaki duduk di mejamu
tapi ku yakin itu bukan lelakimu
karena tak ada wanginya di bajumu
Dari tempat ku duduk
Kunikmati semai tawamu
yang mekar dalam guyonan kawananmu
Hai Puan, kau sungguh tak sopan
Ada pejuang tawa itu di depan
Dikira guyonannya kau tertawakan
Padahal kau abaikan
Memang mending kau abaikan
Kalau rekah tawamu menyemai seruangan
Senyumku bisa kelabakan
Malam itu rabuku riang
Kekagumanku diam menembang
Selayang pandangmu dari seberang
Ah, anganku terbang girang
lalu meliuk biru
Wahai Puan, mengapa buru-buru?
Belum sempat anganku
merasuki inginku mengurai
tanda tanyamu
Rabuku riang membiru
Meski mata kita sempat berkenalan
Tanda tanya itu namamu

Rabu, 10 Mei 2017

Meranggas

0 komentar
Tengadah tangan meminta recehan
Sebelah mata memandang kasihan
Sebelah mata menyeringai enggan
Terucap maaf berlagak sungkan
Risih dengan penganggu obrolan

Tengadah tangan meminta recehan
Kosong kebaikan yang terpampang
Mengisi keburukan di pikiran
Merasa keinginan bekerja keras
bukan anugerah Tuhan

Tengadah tangan tanpa recehan
Tanda waktu adalah uang
dituhankan
Sudah ada digenggaman
usah dilepaskan
Tunjukkan telapak tangan
lebih baik
dari pada tangan di atas

Cermin diri kian rantas
Aku semakin meranggas